indraip

Wordprees

Kenaikan Harga Pangan Buat Pemerintah Panik.

Tinggalkan komentar


Bebaskan Bea Impor Pangan


Pemerintah membebaskan bea masuk (BM) impor pangan untuk men­jaga kestabilan harga pa­ngan di­tanggapi sangat dingin di ber­bagai kalangan.

Saat ini produk yang telah di­bebaskan BM-nya adalah beras. Sementara komoditas pa­ngan lain masih menunggu usulan dari kemen­terian atau lembaga terkait.

Peneliti Serikat Petani In­donesia (SPI) Ahmad Yaqub mengungkapkan, bahwa kebijakan pem­bebasan BM pangan di­se­babkan dorongan situasi panik terhadap kenaikan harga pangan. Sebab, pemerintah tidak akan mem­pu­nyai klaim strategi pembangunan pertanian dan pangan.

“Ini buah dari liberalisasi dan privatisasi aset-aset agraria di Indonesia. Situasi ini me­nun­jukkan pemerintah tidak mempunyai rencana matang dalam kerangka pembangunan pertanian dan pangan, sehingga mengambil jalan pintas dengan mem­be­baskan bea masuk impor pa­ngan,” ujar Yaqub.

Dia juga mengkhawatirkan berbagai potensi devisa yang hilang akibat pemberlakuan kebi­jakan di sektor pangan, terutama gandum, kedelai dan beras.

Menurut Yaqub, kebijakan itu merupakan langkah fatal yang diambil pemerintah dalam me­nyikapi kenaikan harga komo­ditas pangan. Bukan tidak mung­kin, kegagalan pembangunan pertani­an seperti era 80-an ter­ulang lagi. Ja­di, berhasil pada jangka waktu pen­dek dan meng­alami kemun­du­r­an dalam jangka waktu pan­jang.

Sebab itu, ke depannya ada banyak aspek-aspek yang harus mulai diperhatikan pemerintah antara lain, pertanahan, produksi per­tanian, distribusi hasil pertanian dan aspek kelembagaan per­taniannya.

Pemerintah harus sebisa mungkin me­mastikan penguasaan lahan-lahan pertanian sepenuhnya dikuasai oleh pertanian keluarga, bukan perusahaan asing.

“Jangan dengan berbagai ala­san, iklim, biaya produksi yang tinggi, ketersediaan pangan di nasional menipis. Lalu supaya mudah, bea masuk impor diha­pus. Kalau begitu, orang akan berlomba-lomba untuk impor,” terangnya.

Jika kondisi ini terus menerus dimaklumi, maka industri lokal akan kalah bersaing. Jangan berharap menjadi industriawan, Indonesia akan menjadi peda­gang hasil industri luar negeri karena tidak mampu bersaing.

Bukan itu saja, akan semakin banyak usaha kecil untuk menengah (UKM) yang hanya menjadi peda­gang. Tidak memproduksi, akan tetapi hanya perpanjangan ta­ngan dari hasil produksi negara eksportir.

“Petani sudah pasti tidak akan mampu bersaing dengan harga dari para importir. Kita terjebak pada ekonomi pemasaran jual beli, bukan mendorong industrialisasi pa­ngan dan pertanian yang berbasis kekeluargaan,” ujarnya.

Hal senada diungkapkan pe­ngamat ekonomi Bustanul Arifin. Menurutnya, bahwa setiap kebijakan pasti menimbulkan benefit untuk kelompok satu dan dengan kelompok lainnya. Komoditas pa­ngan pun cukup beragam, dan juga tidak bisa diselesaikan hanya dengan solusi  mendatangkan impor ka­rena dampaknya pasti spesifik.

Penulis: indraip

I will learn about history? because I love history and want to know how our forefathers in the days of yore

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s